Langsung ke konten utama

Buku Tanpa Gambar

Ini adalah cerita dari saya yang berasal dari pengalaman saya saat pertama kali membaca buku yang tak bergambar. Mungkin pengalaman seperti ini sudah biasa terjadi dan bahkan kalian sudah mengalaminya. Jangan putus baca sampai disini. Karena pengalaman yang akan saya bagikan kepada Anda akan berbeda.

Semuanya berawal saat memasuki hari hari akhir di masa SMA. Kegiatan yang membosankan dan tidak sama sekali menarik memaksa saya untuk melakukan kegiatan apapun mulai dari melihat pemandangan, membuat konten You Tube, mencari lapangan kerja untuk sekedar hiburan, dan beberapa kali saya datang ke perpustakaan untuk mencari kegiatan agar tidak seperti keledai tanpa pekerjaan. Saya akan malu ketika saya diam di tempat dan tidak melakukan hal apapun.

Saat perjalanan mencari ensiklopedia untuk yang kesekian kalinya, saya menemukan buku yang unik dan menggugah minat baca saya pada buku yang berjudul " Masa Pubertas Perempuan", saya mengira di dalam buku ini saya akan mendapat gambar gambar yang menarik, kenyataannya hanya tulisan yang ada didalam buku tersebut. Entah dari mana bisikan untuk meminjam buku itu datang tapi pada intinya saya membaca lebih dari setengah buku itu dan saya merasakan sebuah sensasi baru dalam membaca. Akhirnya pada bulan berikutnya saya melanjutkan studi saya di perguruan tinggi dan menemukan bahan baca baru yaitu buku yang berjudul " The Subtle Art of Not Giving a F*ck". Tak perlu ditanya siapa pengarang karena dalam cerita ini saya tidak akan membahas isi dari buku tersebut. Bahasan yang akan saya ceritakan adalah bagaimana sebuah buku bisa menjadi "Candu" untuk mengisi otak.

Pada umumnya orang tidak suka membaca buku, namun para pembuat buku akan membuat buku tersebut menjadi menarik untuk dibaca dan dibeli, ada yang memasukan gambar, ilustrasi, sketsa dan yang paling menarik adalah candu dan fantasi ketika membaca buku. Buku yang memiliki candu bagi pembaca akan membuat pembacanya memiliki fantasi sesuai dengan yang penulis inginkan. Hal tersebut sejalan dengan teknik seorang penulis untuk menarik pembaca dan membagikan isi otaknya. Akhirnya sang pembacapun menjadi merasa ketagihan untuk membacanya terus menerus.

Setelah saya mengungkapkan alasan saya menjadi penyuka buku, Saya ingin menceritakan bagaimana saya memilih sebuah buku sebagai bahan bacaan. Orang bilang saya adalah orang yang aneh, tetapi saya menganggap diri saya adalah gila, karena saya rasa pendapat orang lain tentang saya adalah salah. Pada intinya saya adalah saya dan orang lain tidak memiliki kehendak akan saya. Saya memang gila, saya dapat melakukan kebaikan dan saya dapat pula melakukan sebuah kejahatan. Semua itu tergantung pada pilihan saya. Ketika saya berjalan jalan untuk melihat karya karya orang, maka saya akan mengosongkan otak saya dan mengisinya dengan imajinasi ketika saya bisa seperti Iron Man atau Seorang pahlawan kaya bertopeng kelelawar. Dengan cara tersebut secara tidak sadar otak saya akan merasa lebih pintar dan sok pintar. Akhirnya saya akan mencari bahan bacaan yang sesuai dengan ideologi saya dan mulai mencari judul buku yang paling kontras ketimbang buku buku mainstream.

Ketika sebuah buku kuning membuat saya tertarik ...............


bersambung

Komentar